Kumpulan artikel Dr suryani

Permasalahan Narkoba di Indonesia

2 Comments

PERMASALAHAN NARKOBA DI INDONESIA

 

Oleh : Suryani SKp MHSc

                                                                       

 

A. Pendahuluan

            Permasalahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba merupakan permasalahan yang masih dihadapi oleh negara – negara di dunia, termasuk Indonesia. Akhir – akhir ini permasalahan tersebut semakin marak dan komplek terbukti dengan meningkatnya jumlah penyalahguna, pengedar yang tertangkap dan pabrik narkoba yang di bangun di Indonesia.

            Berbagai upaya telah banyak dilakukan oleh pemerintah, swasta dan  masyarakat untuk mencegah dan mengatasi masalah tersebut. Namun, upaya – upaya tersebut belum bisa dikatakan berhasil.

            Kenapa upaya – upaya yang telah banyak dilakukan masih belum mencapai hasil yang memuaskan? Apa saja kelemahan dan kendala dalam mencegah dan mengatasi permasalahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba selama ini ? Apa yang perlu diperbaiki untuk mengatasinya ? Uraian berikut dapat menjelaskan hal – hal tersebut.

 

B. Permasalahan Narkoba di Indonesia

Saat ini menurut hasil penelitian jumlah penyalahguna narkoba adalah 1,5% dari penduduk Indonesia atau sekitas 3,3 juta orang. Dari 80 juta jumlah pemuda Indonesia, 3 % sudah mengalami ketergantungan narkoba, serta sekitar 15. 000 orang telah meninggal dunia (BNN,2006). Bahkan menurut Kalakhar BNN, Drs I Made Mangku Pastika, setiap hari, 40 orang meninggal dunia di negeri ini akibat over dosis narkoba. Angka ini bukanlah jumlah yang sebenarnya dari penyalahguna narkoba. Angka sebenarnya mungkin jauh lebih besar. Menurut Hawari (2002), fenomena penyalahgunaan narkoba itu seperti fenomena gunung es. Angka yang sebenarnya adalah sepuluh kali lipat dari jumlah penyalahguna yang ditemukan.  

Meningkatnya jumlah penyalahguna narkoba dari tahun ke tahun tentunya tidak bisa dianggap masalah yang ringan, tetapi perlu dianggap serius agar penanggulangannya juga bisa dilakukan secara serius.

Secara umum diakui bahwa permasalahan penyalahgunaan narkoba di Indonesia sangatlah kompleks, baik dilihat dari penyebabnya maupun penanganannya. Bila dilihat dari penyebab terjadinya, penyalahgunaan narkoba disebabkan oleh banyak faktor yang saling mempengaruhi satu sama lain. Faktor – faktor tersebut antara lain faktor letak geografi Indonesia, faktor ekonomi, faktor kemudahan memperoleh obat, faktor keluarga dan masyarakat, faktor kepribadian serta faktor fisik dari individu yang menyalahgunakannya.

Dilihat dari letak geografi, Indonesia memang sangat beresiko menjadi sasaran empuk pengedar narkoba karena posisi Indonesia yang terletak diantara dua benua dan dua samudra. Disamping itu juga karena negara Indonesia adalah negara kepulauan dengan banyak pelabuhan yang memudahkan jaringan gelap dalam mengedarkan narkoba.

Dari faktor ekonomi, keuntungan yang berlipat dari bisnis narkoba menyebabkan semakin maraknya bisnis ini di negeri kita. Dalam satu hari seorang pengedar bisa mendapatkan uang yang sangat banyak karena harga narkoba itu mahal. Satu pil ekstasi saja harganya 40.000 rupiah. Disamping faktor keuntungan, faktor sulitnya mendapatkan pekerjaan dan gaya hidup yang serba konsumtif juga merupakan faktor penyebab yang mendorong seseorang menjadi pengedar narkoba.

Untuk faktor kemudahan memperoleh obat, saat ini di Indonesia narkoba bisa dengan mudah diperoleh baik ditempat umum seperti warung maupun di tempat – tempat tertentu seperti diskotik. Banyak yang menawarkan dan menipu si korban agar mau mencoba. Awalnya diberikan gratis dengan dalih pertemanan atau ingin menolong mengatasi masalah yang sedang dihadapi. Bahkan narkoba bisa ditemukan di kamar kos mahasiswa. Hasil penelitian  Amin (2002) mengungkap bahwa mahasiswa yang kos di jatinangor, Sumedang memperoleh narkoba dari temannya yang sama – sama kos. Mereka menggunakan narkoba dan melakukan sex bebas sebagai sarana rekreasi.

Faktor keluarga juga turut berperan dalam maraknya penyalahgunaan narkoba. Zaman sekarang, akibat tuntutan kebutuhan hidup, kedua orang tua harus membanting tulang untuk memenuhi segala kebutuhan keluarga. Karena kesibukannya, orang tua terkadang tidak punya waktu untuk berkomunikasi dengan anak – anaknya. Dampaknya anak merasa tidak diperhatikan sehingga mereka mencari orang lain diluar rumah yang mau memperhatikan mereka, dan membentuk nilai – nilai sendiri dengan mengkaitkan dirinya dengan cara menggunakan narkoba (Kusumanto dan Saifun,1975 dalam Yongky, 2003). Hal tersebut juga didukung oleh Hawari (2002) yang menyatakan bahwa alasan remaja menyalahgunakan narkoba adalah karena kehidupan keluarga yang tidak harmonis, orang tua yang terlalu sibuk dan untuk lari dari masalah yang sedang dihadapi.

Kurangnya contoh teladan dari orang tua dan kurangnya penanaman disiplin di rumah membuat anak – anak cenderung bebas melakukan apa saja. Dengan kondisinya yang serba ingin tahu membuat remaja akhirnya juga terjerumus kepada penyalahgunaan narkoba.

Faktor lain yang juga menjadi penyebab banyaknya penyalahguna narkoba adalah masyarakat. Akibat trend kehidupan yang cenderung individualistis, saat ini kepedulian diantara anggota masyarakat terhadap anggota masyarakat lainnya menjadi sangat berkurang. Dulu, bila ada anak tetangga yang bersikap kurang sopan atau berbuat salah, tetangga berusaha menegur. Tapi sekarang hal itu sudah tidak terjadi lagi karena pertama merasa bahwa itu bukan anak saya, kedua karena takut orang tua si anak malah marah kalau anaknya ditegur. Budaya yang dianut oleh sekelompok masyarakat juga sangat besar pengaruhnya. Budaya ini terbentuk karena adanya publik figur yang memberikan contoh. Misalnya, saat ini di kalangan remaja tertentu menyalahgunakan narkoba menjadi kebanggaan karena artis idola mereka juga menggunakan narkoba. 

Faktor kepribadian seseorang juga berpengaruh terhadap penyalahgunaan narkoba. Menurut YATIM (1991), penyalahguna narkoba mempunyai ciri kepribadian lemah, mudah kecewa, kurang kuat menghadapi kegagalan, bersifat memberontak dan kurang mandiri. Sedangkan hasil penelitian Erwin Wijono, dkk (1982) dalam Yongky (2003) di RSKO Jakarta menyimpulkan bahwa ketergantungan obat terlarang mudah terjadi pada mereka dengan ciri –ciri kepribadian : mudah kecewa, cepat emosi, pembosan, lebih mengutamakan kenikmatan sesaat tanpa memikirkan akibatnya di kemudian hari atau pemuasan segera.

            Faktor kepribadian ini sangat erat kaitannya dengan faktor keluarga, dimana kepribadian seseorang sebenarnya banyak dibentuk dalam keluarga. Bagaimana seorang anak diasuh oleh orang tuanya sangat berpengaruh terhadap terbentuknya kepribadiannya. Seseorang yang  diasuh dengan pola asuh yang kurang tepat seperti terlalu dimanjakan atau sebaliknya  terlalu dikekang akan membentuk kepribadian yang lemah dan tidak mandiri. 

 

C. Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Peredaran Narkoba

Karena penyebab yang sangat kompleks dari penyalahgunaan narkoba, penanggulangannyapun tidaklah sederhana. Berbagai upaya telah banyak dilakukan oleh pemerintah dalam rangka memerangi narkoba. Untuk mengkoordinasikan penanganan masalah tersebut pemerintah sejak tahun 2002 telah membuat suatu Badan yang mengurusnya yaitu Badan Narkotika Nasional (BNN) berdasarkan UU no 22 th 1997 pasal 54 serta Kepres no 17 th 2002. Tugas pokok BNN adalah mengkoordinasikan instansi terkait dalam menyusun kebijakan dan pelaksanaannya di Bidang penyediaan, pencegahan, pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Disamping itu juga melaksanakan pencegahan dan pemberantasan peredaran gelap narkoba.

BNN dalam operasionalnya ditingkat provinsi dilaksanakan oleh Badan Narkotika Provinsi (BNP) dan pada tingkat kabupaten Kota oleh Badan narkotika Kabupaten/Kota (BNK). Sampai saat ini telah terbentuk 31 BNP dari 33 provinsi dan baru terbentuk 270 BNK dari 460 Kabupaten Kota di seluruh Indonesia. Sayangnya, baru sebagian kecil dari BNP dan BNK tersebut yang mempunyasi kantor sendiri dan mendapat anggaran dari APBD (SADAR, Maret, 2007). Akibatnya, fungsi BNP dan BNK sendiri belum banyak terlihat.

Strategi Nasional .P4GN diarahkan pada terwujudnya Indonesia bebas NARKOBA th 2015 melalui Pengurangan permintaan (demand reduction), pengurangan sediaan (suplai reduction) dan pengurangan dampak buruk (harm reduction) yang ditunjang dengan program penelitian dan pengembangan, pemantapan koordinasi antar lembaga, pelibatan masyarakat dalam kegiatan P4GN dan kerjasama international (SADAR, Maret, 2007).

Dalam upaya pengurangan permintaan melalui upaya preventif, pemerintah melalui BNN telah melakukan berbagai upaya seperti pelatihan bagi para fasilitator Penyuluh P4GN sebagai upaya meningkatkan keterampilan mereka. Disamping itu juga telah bekerjasama dengan sekolah – sekolah untuk melakukan penyuluhan.  Melakukan kampanye anti narkoba dengan slogan anti narkoba seperti “Say no to drug”, Narkoba, kado istimewa dari neraka, dan sebagainya. Melakukan peringatan hari anti narkoba setiap tahun. Mengadakan buku – buku, leaflet, pamlet, poster, VCD dan sebagainya yang dapat digunakan masyarakat untuk memahami tentang narkoba. Disamping itu juga telah diterbitkan tabloid SADAR oleh BNN yang berisikan berita seputar narkoba. Pada bulan mei 2007 Pemerintah juga telah bekerjasama dengan Metro TV untuk kampanye perang melawan narkoba.

Dalam upaya pemberantasan peredaran gelap narkoba pemerintah melalui aparat keamanan dan penegak hukum telah banyak melakukan penangkapan , penggerebekan serta pemberian hukuman. Seperti misalnya penutupan pabrik narkoba di Cikande, Serang, Banten, tahun 2005, penggeledahan di Lembaga Pemasyarakatan dan pemberian hukuman mati oleh Mahkamah Agung pada 9 orang pengelola pabrik ekstasi Cikande  baru – baru ini (Pikiran Rakyat, mei 2007).

Dalam upaya kuratif dan rehabilitatif, pemerintah telah berupaya mengadakan pusat – pusat rehabilitasi bagi korban narkoba seperti misalnya RSKO di Jakarta dan pusat rehabilitasi narkoba di berbagai Rumah sakit Jiwa di Indonesia dan panti rehabilitasi. Penanganan korban di pusat rehabilitasi beragam, ada yang menggunakan substitusi dengan obat dan ada pula tanpa obat, ada yang menggunakan pendekatan terapeutic community, pendekatan spiritual dan lain – lain.

Bukan hanya pemerintah yang telah berupaya melakukan upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan narkoba. Masyarakatpun sebenarnya sudah banyak yang berperan. Banyak LSM, yayasan maupun unsur masyarakat seperti Karang taruna dan tokoh masyarakat yang dengan swadaya melakukan upaya – upaya preventif, promotif dan rehabilitatif.

Apakah upaya tersebut telah mampu mengatasi permasalahan narkoba ? Secara jujur tentu belum karena angka penyalah gunaan narkoba terus meningkat dari tahun ke tahun.

 

D. Analisa Terhadap Berbagai Upaya Pencegahan dan   

     Penanggulangan Peredaran Narkoba

Dari Uraian diatas dapat dikatakan bahwa telah banyak upaya yang dilakukan pemerintah dan organisasi masyarakat dalam mencegah dan menanggulangi masalah penyalahgunaan narkoba. Akan tetapi masih banyak kelemahan dan kendala yang dihadapi.

Kelemahan pertama yaitu program BNN sampai tahun 2006 masih banyak terfokus pada suplai reduction (SADAR, Desember, 2006). Pemantapan seaport dan airport Interdiction menjadi salah satu upaya BNN bersama instansi terkait untuk mencegah masuknya narkoba ke wilayah Indonesia. Hasilnya cukup memuaskan, namun karena di Indonesia banyak pelabuhan laut terbuka yang tidak punya alat pendeteksi canggih seperti X-Ray di bandara, maka peredaran gelap narkoba masih saja terjadi (KOMPAS, 2005). Kasus 966 kilogram shabu di teluk Naga yang terungkap pada bulan Agustus 2005 cukup sebagai bukti sulitnya mengontrol kejadian ini. Bahkan akhir – akhir ini Indonesia bukan lagi hanya sebagai kawasan peredaran saja tapi juga sebagai produsen. Beberapa pabrik narkoba telah berdiri seperti misalnya pabrik ekstasi di Serang, Banten.

Kedua, BNN terlalu banyak mengerjakan program sendiri, kurang melibatkan instansi terkait dan LSM. Seperti yang diungkapkan oleh Veronica, direktur YCAB Jakarta. BNN harusnya seperti Bandar program, memberdayakan LSM untuk melakukan sesuatu sesuai dengan keahliannya kemudian memberikan akses dan fasilitas kepada mereka untuk mempermudah pekerjaan (SADAR, Desember, 2006). BNN sebaiknya lebih memerankan fungsinya sebagai fasilitator dan koordinator kegiatan – kegiatan pemberantasan penyalahgunaan narkoba dengan mendorong berbagai unsur yang ada di masyarakat untuk lebih banyak terlibat dalam upaya memerangi penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.

Ketiga, BNP serta BNK sebagai perpanjangan tangan BNN selama ini belum berfungsi dengan baik. Beberapa BNP dan BNK hanya melakukan kegiatan yang sifatnya seremonial seperti misalnya peringatan hari anti NARKOBA tanpa menjalankan fungsi utamanya sebagai fasilitator dan koordinator program pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan narkoba. Akibatnya timbul ketidakpuasan dari masyarakat terhadap kinerja BNP dan BNK. Banyak dari LSM yang ada di daerah merasa tidak puas terhadap kinerja BNP dan BNK. Konsekuensi lain adalah kegiatan-kegiatan yang  dilakukan oleh institusi terkait dan kelompok masyarakat tidak terkoordinir dengan baik sehingga tidak mencapai sasaran.

Untuk itu diperlukan upaya evaluasi dan monitoring terhadap kinerja BNN, dan lebih penting lagi evaluasi dan monitoring terhadap kinerja BNP dan BNK. Disamping itu Pemerintah perlu membuat alat ukur untuk mengukur keberhasilan BNP dan BNK dalam upaya pencegahan dan pemberantasan peredaran gelap narkoba. Jangan sampai program – program yang ada hanyalah diatas kertas atau lebih parah lagi hanyalah fiktif belaka.

Keempat adalah kurangnya kesadaran masyarakat awam tentang peran mereka dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan narkoba. Hal ini mungkin terkait dengan kurangnya sosialisasi keberadaan BNN, BNP dan BNK serta program – programnya ke masyarakat sehingga masyarakat banyak yang tidak mengenal adanya BNN, BNP dan BNK. Masyarakat hanya tahu bahwa permasalahan narkoba adalah tanggung jawab pihak kepolisian saja. Karena kurangnya pengetahuan dan ketakutan yang berlebuhan, mereka cenderung tidak melaporkan kasus – kasus yang mereka temukan. Salah seorang Kanit narkoba di Cimahi menceritakan pengalamannya tentang sulitnya mendapatkan informasi dari masyarakat. Dia pernah mengiklankan “siapa yang mau memberi informasi tentang adanya kasus narkoba di daerah mereka, akan dibayar tinggi.” Tapi tetap tidak ada yang melapor.

Untuk lebih meningkatkan peran serta masyarakat, maka dalam setiap kampanye atau penyuluhan di masyarakat perlu disampaikan tentang konsep bela negara dimana seluruh rakyat Indonesia wajib membela negara. Jadi semua warga negara diwajibkan untuk perang melawan penyalahgunaan dan perdagangan gelap narkoba. Disamping itu kepada BNN, BNP dan BNK agar lebih meningkatkan sosialisasinya ke masyarakat, terlebih lagi masyarakat di pedesaan.

Kelima adalah masih kurangnya melibatkan unsur – unsur masyarakat yang sebenarnya sangat strategis, efektif dan efisien untuk upaya preventif seperti tokoh agama, kelompok ibu – ibu PKK,  dan para kader di tingkat RT dan RW. Permasalahan penyalahgunaan narkoba sangat terkait dengan masalah moral dan kepribadian. Karena itu sangatlah tepat untuk melibatkan para tokoh agama atau ulama atau ustad dan ustadzah dalam program pencegahan. Jika perlu mereka didukung dengan dana yang memadai untuk menjalankan tugas mereka. Bukan hanya untuk sektor terapi dan rehabilitasi seperti yang telah dilakukan BNN dengan membuat kesepakatan bersama antara BNN, Colombo plan dan Nahdatul ulama pada bulan Februari 2006

Para ibu – ibu PKK dan Ibu – ibu kader juga sangat penting untuk dilibatkan dalam program pencegahan. Sebagaimana yang telah diketahui bahwa sekitar 80 % dari pengguna adalah remaja. Remaja ini masih dalam tanggung jawab orang tua. Kaum Ibu merupakan orang pertama yang bertugas mendidik putra – putrinya. Ketidaktahuan kaum ibu tentang tumbuh kembang anak dan remaja, pola asuh yang tepat bagi anak dan remaja serta narkoba bisa menjadi penyebab remaja terjerumus menyalahgunakan narkoba.

Keenam adalah penyuluhan yang dilakukan selama ini pada masyarakat terutama remaja kurang memperhatikan kondisi sasaran. Penyampaian materi cenderung monoton, kurang variatif. Hasil penelitian Suryani (2006), baru – baru ini tentang persepsi remaja terhadap pelaksanaan penyuluhan narkoba di Jatinongor menunjukkan 54,4 % responden menyatakan negatif terhadap metode dan pemberi materi pada penyuluhan yang pernah mereka ikuti. Mereka menyarankan agar metode yang digunakan disesuaikan dengan kondisi remaja.

Ketujuh adalah bahwa program pencegahan dan rehabilitasi narkoba belum menjangkau daerah pedesaan. Banyak orang – orang di pedesaan yang tidak paham tentang narkoba sehingga mereka dengan mudah terjerumus. Sebagai contoh banyak diantara para korban yang ada di Panti rehabilitasi Pamardi Putra Lembang, Bandung berasal dari daerah pedesaan seperti Cililin, pedesaan garut dan kuningan, Jawa Barat. Di daerah pedesaan di Sumatra ketika saya kunjungan kesana, masyarakatnya banyak yang tidak mengerti tentang permasalahan narkoba dan mereka belum pernah mendapatkan penyuluhan tentang narkoba. Banyak remaja yang terlibat penyalahgunaan narkoba.

Masalah lain adalah banyak dari slogan – slogan yang dibuat kurang simpati, terkesan seram, dan misleading information : sebagai contoh “NARKOBA kado istimewa dari neraka”. Apa betul narkoba itu membawa orang ke neraka, atau menyebabkan orang masuk neraka? Bukankah narkoba itu bermanfaat untuk pengobatan? Yang ke neraka adalah orang yang menyalahgunakan, mengedarkan atau yang melindungi pengedarnya bukan narkobanya. “NARKOBA adalah barang haram”. Betulkah narkoba itu barang haram? Kalau begitu tidak boleh digunakan sekalipun untuk tujuan pengobatan.

Kalimat “Perangi NARKOBA” juga kurang tepat. Kalau perang artinya narkoba itu musuh, padahal kalau dilihat defenisinya menurut WHO, narkoba adalah semua zat, kecuali makanan, minuman atau oksigen yang jika dimasukkan kedalam tubuh dapat mengubah fungsi tubuh secara fisik dan atau psikologis. narkoba itu terdiri dari narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya. Narkotika menurut UU no 22 th1997 adalah suatu zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau peribahan kesadaran, hilangnya rasa dan dapat menimbulkan ketergantungan. Sedangkan defenisi psikotropika menurut UU no 5 tahun1997 adalah zat atau obat baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas normal dan perilaku.   Narkoba itu sebetulnya sudah ada sejak zaman dahulu dan sebenarnya bermanfaat bagi kehidupan manusia. Kenapa diperangi ? Siapa dan apa sebenarnya yang harus diperangi ?

Ungkapan say no to drug, menurut Veronica Colondam, Chief Excecutife Officer YCAB, untuk sebagian orang memang ampuh tapi untuk sebagian orang malah jadi penasaran. Kenapa say no ? Tanpa pengetahuan yang memadai malah membuat mereka menjadi penasaran (SADAR, Desember, 2006). Hasil penelitian LSM KEREN terhadap siswa SMA swasta di Cimahi menunjukkan bahwa 59 % responden menunjukkan sikap yang favorable terhadap penyalahgunaan narkoba. Pernyataan yang menyatakan menggunakan NARKOBA sama dengan penyalahgunaan narkoba, bahwa penggunaan rokok dan ganja merupakan “pintu gerbang” ke “zat yang lebih keras” agaknya kurang tepat karena ada perbedaan antara mencicipi, menggunakan, menyalahgunakan dan kecanduan. Dan penggunaan satu jenis narkoba tidak selalu pasti mengarah kepada penggunaan narkoba lainnya.

            Berkaitan dengan hal tersebut diatas, maka  slogan – slogan yang berkaitan dengan narkoba yang telah beredar di masyarakat, perlu dievaluasi sejauh mana keefektifannya, bagaimana persepsi masyarakat terutama target sasaran terhadap slogan tersebut dan bagaimana  dampaknya. Sekaranglah waktunya untuk merobah cara – cara lama yang memberikan informasi yang cenderung menakut – nakuti dan berlebihan menjadi pemberian informasi yang jujur, proporsional dan cara pandang yang positif. Sebagai contoh slogan yang baik misalnya  Demi bangsa dan negara ini, mari kita semua berjuang memerangi penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.

            Masalah yang paling serius adalah adanya unsur korupsi dan kolusi dalam penanganan kasus NARKOBA. Hasil penelitian kualitatif yang dilakukan oleh salah seorang mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri mengungkap tentang bagaimana mafia peradilan dalam penanganan kasus narkoba. Disamping itu juga, rendahnya moral para penegak hukum, membuat mereka sendiri terjerumus kedalam penyalahgunaan narkoba, bahkan menjadi pelindung para pengedar narkoba. Kasus seorang Kapolsek di Bogor baru – baru ini yang tertangkap basah sedang menggunakan shabu merupakan salah satu dari banyak kasus yang sangat memalukan dan membahayakan.

            Berkaitan dengan permasahan ini, agaknya memang cukup sulit untuk diatasi. Karena korupsi sudah menjadi budaya di negeri kita ini. Orang akan merasa malu kalau ketahuan maling, tapi orang tidak merasa malu kalau ketahuan korupsi. Padahal maling dan korupsi itu kan secara hakekatnya sama.

            Mungkin perlu adanya sebuah terobosan dalam menghapus  budaya ini. Perlu ditanamkan kepada masyarakat bahwa korupsi itu adalah maling. Atau hilangkan saja kata korupsi, sebut saja maling untuk semua perbuatan yang mengambil sesuatu yang bukan haknya. Jadi sekalipun dia pejabat atau penegak hukum, seandainya dia mengambil sesuatu yang bukan haknya, dia tetap dibilang maling, sama seperti seorang penggangguran yang maling motor.

            Pemberian hukuman yang tegas bagi maling – maling yang berkeliaran di negara kita ini, sangatlah penting agar memberi efek jera dan takut untuk melakukannya. Seharusnya ada pemimpin yang berani menegakkan hukum dengan tegas dan adil tanpa pandang bulu.

            Disamping itu menumbuhkan kesadaran berTuhan (God Consciousness) bagi para penegak hukum sangatlah penting untuk menumbuhkan  keberanian mereka dalam menangani kasus – kasus peredaran gelap narkoba dan kasus – kasus korupsi lainnya, jangan sampai kasus – kasus yang telah terungkap tidak dituntaskan. Dengan menumbuhkan kesadaran berTuhan seseorang akan bekerja dengan ikhlas (God oriented) dan ihsan (melakukan sesuatu dengan kesadaran bahwa semua perbuatannya dilihat Allah). Sehingga membuat seseorang tidak berani berbohong, berbuat curang, memanipulasi data atau perbuatan tercela lainnya.

           

 

E. Kesimpulan

Permasalahan penyalahgunaan dan pererdaran gelap narkoba memang bukanlah masalah yang sederhana. Masalahnya sangat komplek dan bisa dikatakan rumit. Karena itu diperlukan berbagai upaya yang komprehensif dan berkesinambungan dalam memeranginya.

Berbagai upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah, pihak swasta dan masyarakat selama ini nampaknya belum menunjukkan hasil yang memuaskan, hal ini disebabkan oleh berbagai kelemahan dan kendala terutama dalam koordinasi aplikasi program, evaluasi dan monitoring serta masalah moral penegak hukum.

Dalam rangka semangat untuk terus memerangi penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, mari kita perbaiki kelemahan – kelemahan tersebut dan kita atasi berbagai kendala dengan cara yang cerdas.

Demi bangsa dan negara ini, mari kita semua terus berjuang memerangi penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Kita harus menang! Insyaallah.

 

 

 

Daftar Pustaka

Amin (2002). Pengalaman Remaja Dalam Menghadapi Krisis Maturasi di 

             Jatinangor. Skripsi

 

Anggaran minim, kinerja BNP dan BNK Tidak Optimal : Penanggulangan

            NARKOBA Makin Besar Kendala. PiKiran Rakyat, Kamis 13
            Januari 2005

 

Hawari D (2001). Terapi (detoksifikasi), Rehabilitasi (Pesantren) Mutakhir  

            (sistim terpadu) Pasien NARKOBA. Jakarta : UI Press

 

Hawari D (2002). Penyalahgunaan dan ketergantungan NAZA. Jakarta:

            Balai Penerbit FKUI

 

Mangku Pastika  (2007). P4GN, Kendala dan Implementasinya. SADAR. 1

             (V) Maret 2007 : 20 – 21

 

MA Memvonis Mati 9 Tersangka Ekstasi. Pikiran Rakyat. No 64 th LXI, 30    

              Mei 2007

 

Organisasi Kesehatan Sedunia (1991). Menanggulangi Ketagihan Obat dan Alkohol; Pedoman bagi petugas Kesehatan Masyarakat Dengan petunjuk untuk pelatih, Penerbit ITB Bandung

 

Prinantyo. Ditunggu, Komitmen Pemerintah Baru Perangi NARKOBA.

             KOMPAS. Rabu. 15 Desember 2004

 

Suryani (2006). Persepsi Remaja Tentang Pelaksanaan Penyuluhan Narkoba di Jatinangor. Inpress

 

Undang – Undang Republik Indonesia nomor 5 tahun 1997 tentang

             Psikotropika

 

Undang – Undang Republik Indonesia nomor 22 tahun 1997 tentang

             Narkotika

 

Veronica Colondam, CEO YCAB : BNN jadi “Bandar” Program. SADAR. 

             12 (V), Desember 2006: 36 – 38

 

Yatim, D (1991). Apakah penyalahgunaan Obat itu?. Dalam Kepribadian,

             Keluarga dan Narkotika: Tinjauan sosial psikologis. Jakarta:

             Penerbit ARCAN

 

Yongki (2003). Narkoba, Pendekatan Holistik : Organobiologik, psikoedikasional dan psiko sosial budaya.

            http://rudyct.tripod.com/sem1_023/Yongky.htm

 

……………Jalan Panjang BNN. SADAR. 12 (v), Desember 2006 :34 – 38

 

 

 

 

About these ads

Author: ynsuryani

Suryani adalah dosen di FIK UNPAD, Ibu dari 4 orang anak. Suryani adalah seorang pakar dalam bidang kesehatan jiwa. penelitian S3nya tentang halusinasi pada penderita skizofrenia. Beliau juga sangat concern dan aktif meneliti tentang keluarga dan segala permasalahannya. Pengalamannya sebagai ahli kesehatan jiwa dan sebagai seorang istri selama lebih dari 20 tahun membuatnya mampu membantu keluarga - keluarga yang bermasalah

2 thoughts on “Permasalahan Narkoba di Indonesia

  1. makasih ya bu

  2. o ya, sama – sama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.